![]() |
| (Dokumentasi Aksi Demonstrasi Mahasiswa UNIJA di depan kantor Pemkab Sumenep/foto: Adrian) |
Melalui pernyataan sikap yang dibacakan, mahasiswa menyampaikan
empat tuntutan utama secara tegas namun tertib: pertama, penghentian segala
praktik korupsi yang semakin meresap di lingkungan pemerintahan Kabupaten
Sumenep; kedua, peninjauan menyeluruh serta penghentian pelaksanaan program
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai fiktif dan tidak beroperasi
sebagaimana amanat pimpinan negara; ketiga, evaluasi menyeluruh tata kelola
program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menutup celah penyimpangan anggaran;
serta keempat, penolakan tegas terhadap segala bentuk militerisme yang
mengancam ruang demokrasi.
Dalam paparan mendalamnya,
mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan krusial. Korupsi pada proyek BSPS yang
merugikan keuangan negara, dugaan penyimpangan di lingkungan BUMD termasuk PT
Wira Usaha Sumekar, hingga isu integritas pejabat tinggi daerah menjadi catatan
kelam yang mendesak penanganan serius. Program KDMP yang diresmikan justru
ditemui kosong dan tak berfungsi, sementara pengadaan bahan bangunan diduga
sarat kepentingan politik serta ketidaksesuaian spesifikasi. Demikian pula
program MBG dinilai memiliki celah luas terhadap praktik mark-up, konflik
kepentingan, dan penurunan kualitas layanan yang seharusnya dinikmati
masyarakat.
Ketua BEM-KM Universitas Wiraraja, Ibnu Aljazary, menyampaikan kekecewaan mendalam atas ketidakhadiran Bupati Sumenep untuk menerima aspirasi langsung para pemuda.
"Tuntutan yang kami sampaikan menyangkut urusan pemerintahan daerah, sehingga sudah sepatutnya dijawab langsung oleh kepala daerah. Perwakilan yang hadir tidak memiliki kewenangan memadai untuk mengambil keputusan," ujarnya.Ia menegaskan kehadiran mahasiswa bukan sekadar mengkritik, melainkan mendesak tindak lanjut nyata demi kemaslahatan warga Sumenep.
Aksi ini akhirnya diterima
oleh Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan
Kabupaten Sumenep, dengan pengamanan ketat dari pihak kepolisian. BEM-KM
Universitas Wiraraja menegaskan gerakan ini merupakan amanat moral dan sejarah
sebagai bagian dari pengawasan masyarakat, agar setiap rupiah anggaran negara
benar-benar kembali menjadi manfaat bagi rakyat, bukan menjadi sumber kekayaan
segelintir orang.
Reporter: Adrian Iskandar
Editor: LPM Maharaja

0 Komentar