![]() |
| (Ilustrasi berita) |
Madura, Sumenep, LPM Maharaja —
Pemberitaan mengenai Pemilihan Rektor (Pilrek) 2027 Universitas Wiraraja
(UNIJA) yang beredar pekan lalu menuai sorotan dari tiga unsur pimpinan
universitas. Mereka menegaskan bahwa proses Pilrek masih berada pada tahap
persiapan, sementara sejumlah informasi yang beredar dinilai perlu diverifikasi
kembali karena sumber dan dasar pemberitaannya dipertanyakan.
Salah satu narasumber berinisial MH menegaskan
bahwa panitia Pilrek hingga kini belum terbentuk secara resmi. Surat Keputusan
(SK) pembentukan panitia juga masih dalam proses.
"Proses Pilrek ini masih dalam tahap persiapan. Panitianya belum terbentuk dan SK-nya masih dalam proses. Jadi, belum tepat kalau muncul anggapan bahwa proses pemilihan dilakukan secara tertutup," ujarnya.
Menurutnya, mekanisme Pilrek nantinya tetap mengacu pada statuta
dan peraturan universitas. Ia juga mendorong Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) UNIJA untuk turut menghadirkan informasi yang objektif
guna menjaga kondusivitas sivitas akademika.
"LPM harus menjadi bagian dari upaya membendung narasi negatif dengan pemberitaan yang objektif dan berbasis fakta, agar solidaritas dan kondusivitas sivitas akademika tetap terjaga," katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor I UNIJA, Dr. Mujib Hannan, memberikan klarifikasi lebih
tegas. Ia menyatakan tidak pernah diwawancarai terkait Pilrek sebagaimana
informasi yang dimuat dalam pemberitaan tersebut.
"Saya tidak pernah diwawancarai terkait Pilrek seperti yang diberitakan. Untuk masalah Pilrek, saya tidak punya wewenang menjawab karena prosesnya masih mengacu pada peraturan universitas dan panitianya juga belum terbentuk," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa tugasnya saat ini berfokus pada bidang
akademik dan membantu pelaksanaan tugas Rektor. Mengenai apakah pemberitaan
tersebut benar atau tidak, ia memilih menyerahkan penilaiannya kepada mekanisme
dan lembaga yang berwenang.
"Saya baru membaca berita itu. Kalau mau menentukan berita itu hoaks atau tidak, ada mekanisme dan lembaga yang berwenang. Silakan ditanyakan langsung kepada media yang menerbitkannya," ujarnya.
Hal Serupa juga disampaikan oleh Wakil Rektor III
UNIJA, Nurdody Zakki, S.E.,M.SM. Ia mempertanyakan akuntabilitas media yang menerbitkan informasi
tersebut, termasuk kejelasan identitas redaksi, sumber informasi, serta proses
klarifikasi.
"Pilrek itu masih lama. Panitianya belum terbentuk dan bulan pelaksanaannya pun belum diketahui. Kalau ada pihak yang ingin memanfaatkan momentum, sah-sah saja, tetapi pemberitaannya harus bisa dipertanggungjawabkan," katanya.
Ia menilai pemberitaan mengenai isu strategis universitas
semestinya dibangun melalui verifikasi dan keberimbangan, bukan berdasarkan
narasi yang tidak memiliki sumber jelas.
"Ketika berita naik, setidaknya redaksinya jelas, sumbernya jelas, dan ada klarifikasi. Jangan sampai pemberitaan terkesan membuat narasi sendiri kemudian menjawab sendiri. Secara etika jurnalistik, hal seperti itu tentu perlu dipertanyakan," ujarnya.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa figur yang berpotensi mengikuti
Pilrek tidak hanya terbatas pada nama yang muncul dalam pemberitaan. Sejumlah
dosen disebut memiliki peluang sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan
universitas.
"Banyak figur yang memenuhi syarat. Siapa pun nanti yang menjadi calon maupun terpilih, tentu tujuan akhirnya satu, yaitu untuk kemajuan Universitas Wiraraja ke depan," pungkasnya.
Keterangan ketiga narasumber tersebut mempertegas satu hal, bahwa proses
Pilrek UNIJA belum memasuki tahapan resmi karena panitia belum terbentuk.
Karena itu, informasi mengenai kandidat, mekanisme, maupun dinamika pemilihan
dinilai perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat dan diuji melalui sumber
yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di tengah berkembangnya berbagai narasi, verifikasi menjadi kunci.
Sebelum proses resmi dimulai, fakta semestinya didahulukan daripada spekulasi.

0 Komentar