Ia selalu duduk di dekat jendela.
Dari sana, cahaya sore jatuh tepat di wajahnya, membuat matanya terlihat lebih
tenang dari seharusnya. Aku sering berpura-pura sibuk, padahal sedang menghafal
cara ia tersenyum—senyum orang yang tahu batas, tapi tetap berani merasa.
Kami jarang bicara tentang hal-hal
besar.
Lebih sering tentang hari yang melelahkan, tentang hujan yang datang terlalu
cepat, tentang dunia yang rasanya tidak pernah benar-benar ramah. Namun semakin
lama, ada jarak tak terlihat yang ikut duduk di antara kami. Bukan karena tak
nyaman, tapi karena terlalu sadar.
Di tangannya, ada benda-benda kecil
yang sering ia rapikan tanpa alasan.
Di tasku, ada sesuatu yang juga selalu kubawa, kugeser perlahan saat gugup.
Kami tak pernah saling bertanya. Tidak perlu. Beberapa hal cukup dipahami tanpa
suara.
Suatu sore, kami berjalan lebih lama
dari biasanya. Jalan itu sepi, hanya bunyi langkah yang saling menyusul. Ia
berhenti lebih dulu. Aku ikut berhenti. Tak ada sentuhan, tapi jaraknya terasa
lebih dekat dari apa pun yang pernah kurasakan.
“Aku takut,” katanya pelan.
Aku tidak bertanya takut apa. Aku tau dan sangat sadar.
Di antara kami, ada tembok yang tidak dibangun dari kebencian, tapi dari keyakinan. Dan tembok itu tak bisa dihancurkan dengan cinta, sekeras apa pun usaha kita.
Aku pernah berpikir, andai saja
salah satu dari kami lebih berani.
Tapi keberanian macam apa yang meminta seseorang meninggalkan Tuhannya?
Isi kepala seakan berisik. Begitu nyata
kilasan masa depan yang tak akan pernah sampai. Kami sama-sama menengadah, tapi
ke arah yang tak sepenuhnya sama.
Hari itu, kami akhirnya membicarakan
hal yang sejak lama mengendap. Tentang lonceng yang berdentang dan azan yang
berkumandang, tentang rosario yang digenggam dan tasbih yang diputar.
“Kita nggak salah,” kataku.
“Iya,” jawabnya, “tapi kita juga nggak bisa.”
Kami berpisah tanpa janji untuk
kembali.
Karena kembali hanya akan memperpanjang luka yang sudah tahu akhirnya.
Langkah kami menjauh perlahan, ke
arah yang berbeda.
Bukan karena cinta habis, tapi karena iman terlalu utuh untuk dikorbankan.
Dan sejak hari itu, aku percaya:
Ada cinta yang tidak gagal, hanya saja tidak ditakdirkan untuk tinggal.
Penulis: Aurellia Aurita (Mahasiswi Pend. IPA)
Editor: LPM Maharaja

0 Komentar