![]() |
| |
Langit sore memerah ketika Zahwa pulang ke rumah setelah empat tahun pergi. Ia kembali bukan membawa bahagia, melainkan luka. Lelaki yang ia cintai memilih perempuan lain—dan pedihnya, perempuan itu adalah kakaknya sendiri, Nisa.
Zahwa berusaha tegar. Ia tersenyum, menekan air mata, dan menelan kecewa demi kebahagiaan kakaknya. Namun sore itu, pertemuannya dengan Fadhil—lelaki yang dulu menjadi harapannya—meruntuhkan pertahanannya. Ia memilih pergi, mengadu luka kepada Tuhan, lalu mengikhlaskan cinta yang tak lagi menjadi miliknya.
“Harapan ini terlalu besar, ya Rabb,” bisiknya lirih.
Waktu berlalu. Zahwa mulai belajar menerima takdir. Ia menghadiri kajian, menata kembali imannya, hingga kehadiran seorang ustaz muda bernama Hilman perlahan memberi warna baru. Perhatian kecil, pesan singkat, dan pengingat ibadah membuat Zahwa kembali merasa hidup. Tanpa sadar, harapan itu tumbuh lagi.
Namun takdir kembali mengujinya. Hilman pamit—bukan untuk pergi jauh, melainkan untuk menikah.
Sekali lagi Zahwa harus melepaskan. Ia menangis, berdoa, dan menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Allah. Ia belajar bahwa cinta sejati tidak selalu tentang memiliki, melainkan tentang keikhlasan.
Hingga suatu malam, keluarganya mempertemukannya dengan seorang pelamar. Zahwa pasrah. Apa pun jawabannya, ia percaya Tuhan tak pernah salah menulis takdir.
Saat pintu terbuka, semesta seolah berhenti.
Hilman berdiri di sana.
Air mata Zahwa jatuh, kali ini bukan karena luka, melainkan syukur. Tuhan tidak menghilangkan cintanya—Tuhan hanya mengajarinya cara berharap dengan benar.
Cinta yang ia ikhlaskan, kembali dalam bentuk yang lebih suci.
Penulis: Inas Nazala Zulfa Zelfiana (mahasiswi kebidanan semester 1)
anggota LPM Maharaja 2025

0 Komentar