Sejak kecil, hidupnya seperti perlombaan yang tak pernah selesai.
Tidak ada garis akhir, hanya target baru yang semakin tinggi.
Ia belajar bahwa dicintai berarti unggul.
Bahwa aman berarti sempurna.
Bahwa salah sekecil apa pun adalah ancaman.
Di sekolah, namanya sering disebut.
Juara. Teladan. Andalan.
Orang-orang bangga,
tanpa tahu betapa sering ia menahan napas di kamar mandi,
menghitung detak jantungnya sendiri
agar tidak pecah sebelum bel masuk berbunyi.
Ia tidak menyalahkan takdir.
Ia hanya membenci dirinya sendiri
setiap saat hasil dari usahanya tidak pernah cukup puas
untuk membungkam suara di kepalanya.
“Kenapa kamu nggak bisa?”
pertanyaan itu tidak datang dari luar lagi.
Ia sudah menyimpannya rapi di dalam dada.
Ia berjuang.
Benar-benar berjuang.
Mencoba menerima angka yang tidak sempurna.
Mencoba memaafkan diri sendiri.
Namun setiap kegagalan kecil
terasa seperti hukuman seumur hidup.
Sampai suatu hari,
ia memilih beristirahat dan tidur dengan setitik air mata yang jatuh seakan berbisik
"aku pulang"
Penulis: Aurellia Aurita (Mahasiswi Pend. IPA)
Editor: LPM Maharaja

0 Komentar